Pahlawan Revolusi
Nah teman-teman, sekarang saya akan membuat blog tentang pahlawan revolusi, pasti penasaran bukan siapa saja yang telah berjasa dalam memperjuangkan bangsa kita?
Pahlawan Revolusi adalah gelar yang diberikan kepada sejumlah perwira militer yang
gugur dalam tragedi G30S
yang terjadi di Jakarta
dan Yogyakarta
pada tanggal 30 September 1965. Sejak berlakunya Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2009, gelar ini diakui juga sebagai Pahlawan Nasional.
Berikut adalah beberapa nama pahlawan yang telah mengorbankan nyawa mereka dalam mempertahankan bangsa Indonesia:
|
Nama
|
Tempat, Tanggal Lahir
|
Jabatan Terakhir
|
Riwayat Hidup
|
Foto
|
|
Jenderal Ahmad Yani
|
Purworejo, Jawa Tengah - 19 Juni 1922
|
Menteri/Panglima Angkatan Darat
|
Riwayat Pendidikan:
Bintang
Kehormatan:
|
![]() |
|
Letnan Jenderal Suprapto
|
Purwokerto, Jawa Tengah – 20 Juni 1920
|
Deputy Kepala Staf Angkatan Darat (Letnan Jenderal
TNI)
|
Suprapto yang lahir di Purwokerto, 20 Juni 1920, ini
boleh dibilang hampir seusia dengan Panglima Besar Sudirman. Usianya hanya
terpaut empat tahun lebih muda dari sang Panglima Besar. Pendidikan formalnya
setelah tamat MULO (setingkat SLTP) adalah AMS (setingkat SMU) Bagian B di
Yogyakarta yang diselesaikannya pada tahun 1941. Sekitar tahun itu pemerintah Hindia Belanda mengumumkan milisi sehubungan dengan pecahnya Perang Dunia Kedua. Ketika itulah ia memasuki pendidikan militer pada Koninklijke Militaire Akademie di Bandung. Pendidikan ini tidak bisa diselesaikannya sampai tamat karena pasukan Jepang sudah keburu mendarat di Indonesia. Oleh Jepang, ia ditawan dan dipenjarakan, tapi kemudian ia berhasil melarikan diri. |
![]() |
|
Letnan Jenderal Hariyono
|
Surabaya, Jawa Timur – 20 Januari 1924
|
- Sekretaris Delegasi Militer Indonesia.
- Mayor
|
Letjen Anumerta M.T. Haryono kelahiran Surabaya, 20
Januari 1924, ini sebelumnya memperoleh pendidikan di ELS (setingkat Sekolah
Dasar) kemudian diteruskan ke HBS (setingkat Sekolah Menengah Umum). Setamat
dari HBS, ia sempat masuk Ika Dai Gakko (Sekolah Kedokteran masa pendudukan Jepang)
di Jakarta, namun tidak sampai tamat. Selama terjadinya perang mempertahankan kemerdekaan yakni antara tahun 1945 sampai tahun 1950, ia sering dipindahtugaskan. Pertama-tama ia ditempatkan di Kantor Penghubung, kemudian sebagai Sekretaris Delegasi RI dalam perundingan dengan Inggris dan Belanda. Suatu kali ia juga pernah ditempatkan sebagai Sekretaris Dewan Pertahanan Negara dan di lain waktu sebagai Wakil Tetap pada Kementerian Pertahanan Urusan Gencatan Senjata. Dan ketika diselenggarakan Konferensi Meja Bundar (KMB), ia merupakan Sekretaris Delegasi Militer Indonesia. |
![]() |
|
Letnan Jenderal Siswondo Parman
|
Wonosobo, Jawa Tengah – 4 Agustus 1918
|
Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad)
dengan pangkat Mayor Jenderal.
|
Pendidikan umum yang pernah diikutinya adalah sekolah
tingkat dasar, sekolah menengah, dan Sekolah Tinggi Kedokteran. Namun sebelum
menyelesaikan dokternya, tentara Jepang telah menduduki Republik sehingga gelar dokter
pun tidak sampai berhasil diraihnya. Setelah tidak bisa meneruskan sekolah kedokteran, ia sempat bekerja pada Jawatan Kempeitai. Di sana ia dicurigai Jepang sehingga ditangkap, namun tidak lama kemudian dibebaskan kembali. Sesudah itu, ia malah dikirim ke Jepang untuk mengikuti pendidikan pada Kenpei Kasya Butai. Sekembalinya ke tanah air ia kembali lagi bekerja pada Jawatan Kempeitai. Awal kariernya di militer dimulai dengan mengikuti Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yaitu Tentara RI yang dibentuk setelah proklamasi kemerdekaan. Pada akhir bulan Desember 1945, ia diangkat menjadi Kepala Staf Markas Besar Polisi Tentara (PT) di Yogyakarta. Ketika menjabat Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) ini, pengaruh PKI juga sedang marak di Indonesia. Partai Komunis ini merasa dekat dengan Presiden Soekarno dan sebagian rakyat pun sudah terpengaruh. Namun sebagai perwira intelijen, S. Parman sebelumnya sudah banyak mengetahui kegiatan rahasia PKI. Maka ketika PKI mengusulkan agar kaum buruh dan tani dipersenjatai atau yang disebut dengan Angkatan Kelima. Ia bersama sebagian besar Perwira Angkatan Darat lainnya menolak usul yang mengandung maksud tersembunyi itu. Dengan dasar itulah kemudian dirinya dimusuhi oleh PKI.Dan akhirnya pada saat terjadinya peristiwa G30S ,beliau menjadi korban karena termasuk musuh PKI.S.Parman diculik dari rumahnya,dibunuh di Lubang Buaya,dan disembunyikan di sumur Lubang Buaya. |
![]() |
|
Mayor Jenderal Pandjaitan
|
Balige, Sumatera Utara – 19 Juni 1925
|
Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat
(Men/Pangad)
|
Pendidikan formal diawali dari Sekolah Dasar, kemudian
masuk Sekolah Menengah Pertama, dan terakhir di Sekolah Menengah Atas. Ketika
ia tamat Sekolah Menengah Atas, Indonesia sedang dalam pendudukan Jepang.
Sehingga ketika masuk menjadi anggota militer ia harus mengikuti latihan
Gyugun. Selesai latihan, ia ditugaskan sebagai anggota Gyugun di Pekanbaru,
Riau hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Ketika Indonesia sudah meraih kemerdekaan, ia bersama para pemuda lainnya membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kemudian menjadi TNI. Di TKR, ia pertama kali ditugaskan menjadi komandan batalyon, kemudian menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi pada tahun 1948. Seterusnya menjadi Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatera. Dan ketika Pasukan Belanda melakukan Agresi Militernya yang Ke II, ia diangkat menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Seiring dengan berakhirnya Agresi Militer Belanda ke II, Indonesia pun memperoleh pengakuan kedaulatan. Panjaitan sendiri kemudian diangkat menjadi Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) I Bukit Barisan di Medan. Selanjutnya dipindahkan lagi ke Palembang menjadi Kepala Staf T & T II/Sriwijaya. Ketika menjabat Asisten IV Men/Pangad, ia mencatat prestasi tersendiri atas keberhasilannya membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Cina (RRC) untuk PKI. Dari situ diketahui bahwa senjata-senjata tersebut dimasukkan ke dalam peti-peti bahan bangunan yang akan dipakai dalam pembangunan gedung Conefo (Conference of the New Emerging Forces). Senjata-senjata itu diperlukan PKI yang sedang giatnya mengadakan persiapan melancarkan pemberontakan. |
![]() |
|
Kapten Pierre Tandean
|
Jakarta, 21 Februari 1939
|
Menko Hankam/Kepala Staf ABRI
|
Beliau adalah ajudan dari Jenderal Besar DR. Abdul Harris Nasution
(Menko Hankam/Kepala Staf ABRI) pada era Soekarno.
Abdul Harris Nasution lolos dari peristiwa penculikan tetapi anaknya, Ade Irma Suryani Nasution tewas
tertembus peluru. Pierre Tendean sendiri ditangkap oleh segerombolan penculik
dan dibunuh di Lubang Buaya. Ia diculik karena dikira adalah
Jenderal Besar DR. A.H. Nasution
Setelah lulus dari pendidikan militer,
ia langsung mengajukan diri untuk bergabung dengan garis depan dalam
peristiwa Konfrontasi Indonesia-Malaysia.
Wajah indo-nya membuat Pierre dengan mudah bolak balik Indonesia - Singapura
sebagai intelijen untuk mengumpulkan data. Kurang lebih Pierre berhasil
melakukan infiltrasi sebanyak 6 kali, yang terakhir nyaris membuatnya
terbunuh
|
![]() |
|
Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo
|
Sragen, Jawa Tengah – 5 Februari 1923
|
Bridjen Angkatan Darat
|
Brigjen Anumerta
Katamso Darmokusumo (lahir di Sragen,
Jawa Tengah,
5 Februari
1923 – meninggal
di Yogyakarta,
1 Oktober
1965
pada umur 42 tahun) adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia. Katamso
termasuk tokoh yang terbunuh dalam peristiwa Gerakan 30 September. Ia dimakamkan di
Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara, Yogyakarta.
|
![]() |
|
Kolonel Sugiono
|
Gedaren, Gunung Kidul – 12 Agustus 1926
|
Kolonel Angkatan Darat
|
Kol. Sugiyono menikah dengan Supriyati. Mereka
memiliki anak enam orang laki-laki; R. Erry Guthomo (l. 1954), R. Agung
Pramuji (l. 1956), R. Haryo Guritno (l. 1958), R. Danny Nugroho (l. 1960), R.
Budi Winoto (l. 1962), dan R. Ganis Priyono (l. 1963); serta seorang anak
perempuan, Rr. Sugiarti Takarina (l. 1965), yang lahir setelah ayahnya
meninggal. Nama Sugiarti Takarina diberikan oleh Presiden Sukarno.
|
![]() |
|
AIP Karel Satsuit Tubun
|
Maluku Tenggara, 14 Oktober 1928
|
Brigadir polisi
|
Karel Satsuit Tubun lahir di Tual,Maluku
Tenggara Pada Tanggal 14
Oktober
1928.ketika
telah Dewasa ia memustuskan untuk masuk menjadi anggota POLRI.ia pun
diterima,lalu mengikuti Pendidikan Polisi,setelah
lulus,ia ditempatkan di Kesatuan Brimob Ambon dengan Pangkat Agen Polisi Kelas Dua atau sekarang
Bhayangkara Dua Polisi.ia pun ditarik ke Jakarta
dan Memiliki Pangkat Agen Polisi Kelas Satu atau sekarang Bhayangkara Dua
Polisi.ketika Bung Karno mengumandangkan Trikora
yang isinya menuntut Pengembalian Irian Barat kepada Indonesia dari tangan
Belanda.seketika pula dilakukan Operasi Militer ia pun ikut serta dalam perjuangan itu.setelah Irian
barat berhasil dikembalikan.ia diberi tugas untuk mengawal kediaman Wakil
Perdana Menteri Dr.J. Leimena di Jakarta.Berangsur-angsur
Pangkatnya naik menjadi Brigadir Polisi.
|
![]() |
|
Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo
|
Kebumen, Jawa Tengah- 23 Agustus 1922
|
Mayor Jenderal TNI
|
Pendidikan Umum 1. [HIS] 2. [MULO]B 3. [AMS]B Pendidikan militer 1. Kursus C Seskoad 2. Kursus Milat Jabatan : 1. Ajudan Dandiv V 2. Kabag Organisasi Resimen PT Purworejo 3. Kepala Staf CPM Yogyakarta 4. Dan CPM Den II |
![]() |









